Sering Minum Air Putih Belum Tentu Baik, Dokter Ungkap Alasannya
KANALSUMATERA.com - JAKARTA – Minum air putih menjadi salah satu kebiasaan penting untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi. Namun, anggapan bahwa semakin banyak air yang diminum maka semakin sehat ginjal ternyata tidak sepenuhnya benar. Kamis (10/09/2026).
Dokter nefrologi dr Suman Sethi menjelaskan bahwa ginjal merupakan organ yang bekerja sangat efisien dalam mengatur keseimbangan cairan tubuh. Karena itu, seseorang tidak harus memaksakan diri minum air dalam jumlah berlebihan.
"“Ginjal kita adalah organ yang sangat efisien,” katanya, dikutip dari Hindustan Times."
Menurut Sethi, sebagian besar orang sehat sebenarnya dapat mengandalkan rasa haus sebagai sinyal alami tubuh ketika membutuhkan cairan.
"“Bagi sebagian besar individu yang sehat, mekanisme haus alami tubuh sudah cukup untuk memberi sinyal kapan Anda membutuhkan cairan,” tambahnya."
Kebutuhan Air Setiap Orang Berbeda
Tidak ada jumlah air putih yang mutlak harus diminum setiap orang. Kebutuhan cairan dapat berbeda berdasarkan usia, kondisi kesehatan, pola makan hingga lingkungan tempat seseorang beraktivitas.
Saat cuaca panas, berolahraga, demam atau mengalami kondisi yang menyebabkan kehilangan banyak cairan, kebutuhan hidrasi tentu dapat meningkat.
Orang yang memiliki riwayat batu ginjal juga perlu memperhatikan kecukupan cairan. Asupan air yang memadai dapat membantu meningkatkan produksi urine sehingga konsentrasi mineral yang berpotensi membentuk batu dapat berkurang.
"“Orang yang memiliki riwayat batu ginjal juga dapat memperoleh manfaat dari peningkatan asupan cairan, karena produksi urine yang cukup membantu mengurangi konsentrasi mineral pembentuk batu,” kata dr Sethi."
Meski demikian, minum air jauh melampaui kebutuhan tubuh bukan berarti dapat membuat ginjal bekerja lebih baik atau membersihkan ginjal.
Terlalu Banyak Minum Air Juga Bisa Berisiko
Kebutuhan cairan perlu mendapat perhatian lebih bagi orang dengan penyakit tertentu. Pasien penyakit ginjal kronis, gagal jantung maupun mereka yang menjalani dialisis biasanya membutuhkan pengaturan asupan cairan secara khusus.
Sethi mengingatkan, konsumsi air secara berlebihan pada kelompok tersebut justru dapat menimbulkan masalah kesehatan.
"“Bagi mereka, minum terlalu banyak air dapat menyebabkan pembengkakan, sesak napas, tekanan darah tinggi, dan beban tambahan pada jantung dan ginjal. Inilah mengapa mengikuti tren media sosial atau saran hidrasi secara umum terkadang dapat lebih berbahaya daripada bermanfaat,” kata dr Sethi."
Perhatikan Sinyal Tubuh
Untuk mengetahui apakah tubuh membutuhkan cairan, seseorang dapat memperhatikan sejumlah tanda. Rasa haus, urine berwarna kuning tua hingga pusing dapat menjadi indikasi tubuh mengalami kekurangan cairan.
Sebaliknya, urine berwarna kuning pucat pada umumnya menunjukkan tubuh mendapatkan cairan yang cukup. Namun, warna urine tidak dapat dijadikan satu-satunya patokan karena makanan, vitamin dan obat-obatan tertentu juga dapat memengaruhinya.
"“Namun, warna urine saja tidak selalu menjadi indikator yang tepat, karena makanan, vitamin, dan obat-obatan tertentu dapat memengaruhinya,” ujarnya."
Karena itu, menjaga hidrasi bukan berarti harus terus-menerus minum air tanpa memperhatikan kebutuhan tubuh. Pola minum sebaiknya disesuaikan dengan aktivitas, kondisi lingkungan dan keadaan kesehatan masing-masing.
"“Dengarkan sinyal tubuh Anda, jaga hidrasi sesuai gaya hidup dan lingkungan Anda, dan konsultasikan dengan dokter jika Anda memiliki penyakit ginjal atau kondisi kronis lainnya,” katanya."
Pada akhirnya, menjaga kesehatan ginjal tidak hanya bergantung pada banyaknya air putih yang dikonsumsi. Pola makan seimbang, pemeriksaan kesehatan secara berkala serta pengendalian penyakit seperti diabetes dan hipertensi juga menjadi bagian penting dalam menjaga fungsi ginjal.
Dengan demikian, bagi orang sehat, minum air putih secukupnya sesuai kebutuhan tubuh lebih penting daripada memaksakan konsumsi air dalam jumlah berlebihan. (SM)
