Tentang Waktu Gempa NTB dan Tsunami Aceh Dibahas di Kitab Kuno Aceh Abad 18

Amar
Jumat, 15 Februari 2019 17:44:11

BANDA ACEH, KANALSUMATERA.com - Pasca dilanda gempa berkekuatan 7,0 Skala Richter (SR) sekitar pukul 18.46 WIB, pada Minggu (5/8/2018), lalu, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) masih mengalami guncangan dari gempa susulan.

Dampak dari gempa tersebut mengakibatkan sejumlah infrastruktur serta rumah warga mengalami kerusakan.

Berdasarkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah korban meninggal yang terdata mencapai 387 orang, luka-luka 13.688 orang, dan warga mengungsi sebanyak 387.067 jiwa tersebar di ribuan titik.

Peristiwa ini menjadi salah satu bencana alam berupa gempa bumi terbesar dan banyak memakan korban yang dialami oleh Indonesia.

Berbicara tentang gempa, sebuah kitab kuno di Aceh pernah menuliskan peristiwa alam tersebut. Bahkan, kitab yang sudah ada sejak abad ke-18 dan dipamerkan di Stan itu membahas tentang gempa berdasarkan waktu kejadian.

Gempa di NTB terjadi pada Minggu, 5 Agustus 2018 atau 23 Dzulkaidah 1439 H, sekitar pukul 18.46 WIB. Bisa diutarakan bahwa gempa terjadi sewaktu Maghrib.

"Jika pada Bulan Dzulkaidah gempa ketika magrib alamat orang kaya banyak mati," ungkap Istiqamatunnisaq saat membaca kitab yang dibuat tahun 1725 tersebut.

Maksud dari kalimat itu adalah, akan banyak orang yang meninggal akibat gempa.

Istiqamatunnisaq juga membacakan gempa yang terjadi di waktu-waktu lainnya. Bahkan, gempa dengan disusul Tsunami yang terjadi di Aceh pada Minggu 26 Desember 2004 silam dalam waktu Dhuha (pagi) juga tertera di kitab tersebut.

"Jika pada Bulan Dzulkaidah gempa, pada ketika Subuh alamat segala buah-buahan menjadi dalam pohon itu. Jika pada ketika Dhuha alamat bala akan datang kepadanya Tsunami. Jika ketika Zuhur alamat hujan sangat akan datang kepadanya. Jika ketika Ashar alamat baik negeri itu padanya. Jika pada jika pada ketika magrib alamat orang kaya banyak mati. Jika pada Isya alamat orang yang dari jauh akan datang ke negeri itu padanya," bacanya.

"Bab jika pada bulan Dzulhijjah lembu-lembu banyak, bermula air kurang pada tahun itu. Bermula jikalau pada malamnya gempa alamat orang banyak sakit adanya pada tahun itu," baca Istiqamatunnisaq lagi.

Sementara itu, kolektor manuskrip kuno sekaligus pemilik kitab, Tarmizi A Hamid, mengatakan, Indonesia memang daerah yang rawan akan gempa.

"Ulama dulu menulis manuskrip Aceh sesuai dengan peristiwa, jadi dengan adanya manuskrip gempa yang begitu lengkap, begitu detil, berarti negara kita ini dikepung oleh bencana atau rentan dengan bencana," kata Tarmizi atau dikenal dengan Cek Midi.

Mengenai siapa penulisnya, ia tidak mengetahuinya, namun dapat dipastikan bahwa kitab itu ditulis oleh para ulama dan pemikir sufi sekitar abad ke-18. Hal itu berdasarkan watermark yang ada pada kertas.

Meskipun demikian, dia kembali menegaskan bahwa alam Indonesia memang rawan bencana. Dia menambahkan tidak mungkin orang dahulu menulis kitab tersebut jika tidak ada peristiwa yang terjadi selain untuk dipelajari.

"Dengan adanya catatan dari manuskrip ini baru kita tahu bahwasanya Indonesia ini memang rentan atau sangat dekat dengan bencana," jelas Cek Midi.

Saat ini kitab mengenai tentang gempa itu dipamerkan di salah satu stan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-7, yakni Rumoh Manuskrip Aceh, yang ada di Museum Aceh, Banda Aceh.

sumber : ajnn.net

Lainnya
Rumah Yatim Berikan Bantuan Kelanjutan Pembangunan Masjid Raudhatul Jannah Pekanbaru
Rumah Yatim Berikan Bantuan Kelanjutan Pembangunan Masjid Raudhatul Jannah Pekanbaru
Ibu Ini Melahirkan Enam Bayi Hanya dalam 9 Menit
Hebat, Ada Kampung Tanpa Rokok di Jakarta Utara
Ini 10 Kota Terkuat di Dunia
Politik
DPD PKS Inhil Laksanakan Penyembelihan Hewan Kurban, Perkuat Semangat Berbagi untuk Masyarakat
DPD PKS Inhil Laksanakan Penyembelihan Hewan Kurban, Perkuat Semangat Berbagi untuk Masyarakat
43 Tahun “Dirampok”,  Adam Syafaat Dukung Presiden
Kemah Bela Negara PKS Riau: Mengokohkan Akar Kebangsaan
Budaya
Mengulik Sejarah Suku Tanjung dari Sumatera Barat
Mengulik Sejarah Suku Tanjung dari Sumatera Barat
Gunting Pita Menjadi Pertanda Kampar Expo 2023 Resmi Di
Festival Subayang 2023, Ini Jadwal dan Konsepnya
Kriminal
Gajah Mati Tanpa Kepala di Areal Hutan Akasia, Polda Riau Selidiki dan Buru Pelaku
Gajah Mati Tanpa Kepala di Areal Hutan Akasia, Polda Riau Selidiki dan Buru Pelaku
Polres Bengkalis Gagalkan Perdagangan Orang, Selamatkan
Hati-Hati! Ada Akun Facebook Palsu Mengatasnamakan Plt
Hukum
Operasi Patuh 2026 Digelar 8–21 Juni, Korlantas Polri Incar Pelanggar Plat Nomor dan ETLE
Operasi Patuh 2026 Digelar 8–21 Juni, Korlantas Polri Incar Pelanggar Plat Nomor dan ETLE
Kanwil DJP Jabar I Bekukan 275 Rekening Penunggak Pajak
“Semprot” Perusahaan di Pelalawan Usai Insiden Kerj
Ekonomi
Harga TBS Belum Stabil, Abdullah Minta Pengawasan Ketat Perusahaan Sawit: Evaluasi Izin Jika Perlu!
Harga TBS Belum Stabil, Abdullah Minta Pengawasan Ketat Perusahaan Sawit: Evaluasi Izin Jika Perlu!
Polsek Mandau dan Pemkab Bengkalis Kelola 2 Hektare Lah
Disbun Riau Tegas: PKS Dilarang Turunkan Harga TBS Sepi
Lifestyle
Permata Ummat Berharap Pemerintah Beri Fasilitas Yang Cocok Untuk Para Disabilitas
Permata Ummat Berharap Pemerintah Beri Fasilitas Yang Cocok Untuk Para Disabilitas
Forum Pekanbaru Kota Bertuah Bantu Umi Marila Janda Ana
RS Zainab Pekanbaru Hadirkan Klinik Fertilitas, Beri Ha
Fokus Redaksi
Soal Ujian SD di Solok Dinilai Lecehkan Nabi Muhammad, Polisi Periksa Semua Pihak
Soal Ujian SD di Solok Dinilai Lecehkan Nabi Muhammad, Polisi Periksa Semua Pihak
Pedagang Makanan dan Obat Ilegal di Situs Online Ogah C
Lahan Terbakar di Bintan Hanguskan Rumah Sekcam dan Men