Terkuaknya Kebohongan Pendeta Hidupkan Orang Mati

Alwira Fanzary
Kamis, 28 Februari 2019 08:25:50
Saat 'aksi' hidupkan orang mati

KANALSUMATERA.com - Klaim Alph Lukau bisa 'menghidupkan' orang mati jadi kontroversi. Pendeta di Afrika Selatan (Afsel) itu membuat geger publik.

Awalnya, klaim Lukau bisa menghidupkan orang mati bikin heboh media sosial. Banyak netizen yang membuat parodi atas video aksi Lukau menghidupkan orang mati.

Dilansir dari detik.com, Rabu (27/2/2019), klaim Lukau diberitakan berbagai media. Dilansir AFP dan BBC, video Lukau menghidupkan orang meninggal viral di medsos.

Dalam sebuah video, tampak Lukau menunjukkan aksinya menghidupkan orang meninggal yang ada di dalam peti mati. BBC melaporkan aksi tersebut dilakukan di luar gedung gereja Lukau di Kramerville, Sandton, dekat Johannesburg.

Lukau memulai aksi dengan meletakkan kedua tangan di atas seorang pria yang berpakaian serba putih yang ada di dalam peti mati tersebut. Pria tersebut terbaring di dalam peti dengan mulut menganga.

Setelah Lukau mengatakan 'bangkit' ke arah pria tersebut, sontak pria yang ada di dalam peti itu duduk terbangun.


Aksi tersebut disebut sebagai sebuah mukzizat. Dalam video tampak jemaat bersorak dan beberapa ada yang histeris.

Otoritas berwenang di Afsel menyatakan aksi tersebut rekayasa yang dibuat demi kepentingan mendapatkan uang.

"Tidak ada mukjizat seperti itu," tegas Komisi Kemajuan dan Perlindungan Komunitas Budaya, Keagamaan dan Linguistik (Komisi HAM CRL) kepada televisi nasional Afsel dan dilansir BBC.


"Aksi itu direkayasa untuk berusaha mendapatkan uang dari orang-orang tak berdaya," imbuh Komisi HAM CRL.

Komisi HAM CRL pun menyelidiki aksi Lukau agar tak ada masyarakat yang jadi korban penipuan. Sejumlah pemimpin agama malah menyerukan Lukau ditangkap.

Komisi HAM CRL menyatakan tak punya kewenangan melakukan penangkapan terhadap Lukau. Komisi berjuang akan memproses lewat hukum yang berlaku karena sudah menerima banyak pengaduan dari korban.


Aksi Lukau ini juga memicu kemarahan dari federasi gereja-gereja di Afsel. Seperti dilansir media lokal Afsel, Eyewitness News, Rhema Family Churches (RFC) dan International Federation of Christian Churches (IFCC) menyatakan merasa malu atas temuan penyelidikan Komisi CRL soal 'Komersialisasi Agama dan Penyalahgunaan Sistem Kepercayaan Umat'.

"Kita telah melihat eksploitasi orang-orang, dan penganiayaan seksual dan emosional dari orang-orang, semua ini dan banyak hal lainnya telah menodai citra gereja dan menempatkan kita dalam sorotan yang sangat buruk," demikian pernyataan RFC dan IFCC.

Lukau pun dilaporkan atas tuduhan kejahatan terorganisir, penipuan dan misrepresentasi atau penggambaran yang keliru, melalui aksinya 'menghidupkan' orang mati.

Media lokal Afsel, TimesLIVE dan African News Agency (ANA), tuduhan itu datang dari pemimpin gereja lainnya di Afsel, pendeta Elly Mogodiri dari St Oaks Global Church of Christ.

"Saya telah melihat terlalu banyak keserakahan mimbar dan komersialisasi terjadi di dalam gereja, di antara praktik-praktik menggelisahkan lainnya," ujar Mogodiri dalam pernyataannya. "Sekarang ini kita menyaksikan aksi terencana, penipuan dan tidak beriman dalam menghidupkan orang mati di gereja Allelui Ministries International (AMI) di bawah kepemimpinan pendeta Alph Lukau," tegas Mogodiri.

Kontroversi Lukau berlanjut karena diketahui mempunyai gaya hidup mewah yang dipamerkan lewat akun medsosnya. Lukau disebut punya pesawat pribadi, mobil-mobil super mewah dan selalu dikawal saat bepergian ke gerejanya.


Laporan media lokal menyebut pendeta Lukau yang oleh para pengikutnya disebut 'Wakil Tuhan' ini merupakan salah satu pendeta terkaya di dunia. Pendeta yang merupakan pendiri gereja bernama Alleluia Ministries International ini diperkirakan memiliki kekayaan hingga 13,8 miliar Rand Afsel atau setara Rp 13,9 triliun.

Gereja yang dipimpin pendeta Lukau dilaporkan memiliki sekitar 95 ribu jemaat dan memiliki cabang di banyak negara, seperti Zambia, Namibia, Republik Demokratik Kongo, Angola, hingga ke Eropa dan Amerika Selatan. Gereja yang didirikan 24 Februari 2002 itu baru merayakan ulang tahun ke-17 pada Minggu (24/2) lalu. Di media sosial, pendeta Lukau memiliki 89 ribu followerInstagram dan lebih dari 21 ribu follower Twitter.

Belakangan juga diketahui, pria di dalam peti mati itu diidentifikasi bernama Brighton (29) yang berasal dari Zimbabwe. Eyewitness News melaporkan Brighton diketahui bekerja di sebuah perusahaan kayu bernama Vincent Amoretti PTY LTD di Pretoria.

Seseorang bernama Vincent yang mengaku sebagai pemilik Vincent Amoretti PTY LTD dan atasan Brighton, menyebut Brighton bukan pertama kalinya terlibat dalam 'aksi' Lukau. Eyewitness News sendiri menyatakan pernah mendengar dari seorang kolega di Vincent Amoretti bahwa Brighton pernah membantu pendeta Lukau dalam 'mukjizat' lainnya.
Menurut Vincent kepada radio lokal 702 'Azania Mosaka', Brighton pernah membantu pendeta Lukau dengan berpura-pura menjadi seseorang yang lumpuh dan duduk di kursi roda, yang tiba-tiba berdiri setelah didoakan oleh pendeta Lukau. Vincent tidak menyebut lebih lanjut sumber informasinya itu dan kapan hal itu terjadi.

Kebohongan Lukau juga terkuak terkait melibatkan menyembuhkan seorang wanita bernama Patience yang lumpuh pada Juni 2017 lalu. Mirip dengan praktik yang dilakukan kepada Brighton, Lukau bisa menyembuhkan Patience yang mengaku menderita sakit liver dan dislokasi tulang panggul selama enam tahun.

Dengan meletakkan tangan di atas badan wanita itu dan berdoa, Lukau bisa membuat wanita itu bangkit dari tandu dan mulai berjalan. Kso

Lainnya
Kondisi Cuaca Tak Menentu, Walikota Pekanbaru Beri Dispensasi Kepada PNS yang Hamil
Kondisi Cuaca Tak Menentu, Walikota Pekanbaru Beri Dispensasi Kepada PNS yang Hamil
Duduk Lebih Dari 6 Jam Sehari Bisa Picu Diabetes
Ini Cara Agar Bantal Anda Tak Dihuni Tungau
Kematian Remaja 11 Tahun Ini Diduga Karena Aroma Ikan
Hoax or Not
Hotel di Lampung Di Teror Email Bom, Polisi Bergerak
Hotel di Lampung Di Teror Email Bom, Polisi Bergerak
Banyak Pelaku Terorisme Berasal dari Sumbar dan Sumsel,
Soal Penelantaran Kakek Bernama Abdul Jalil di Medan, I
Kriminal
Gajah Mati Tanpa Kepala di Areal Hutan Akasia, Polda Riau Selidiki dan Buru Pelaku
Gajah Mati Tanpa Kepala di Areal Hutan Akasia, Polda Riau Selidiki dan Buru Pelaku
Polres Bengkalis Gagalkan Perdagangan Orang, Selamatkan
Hati-Hati! Ada Akun Facebook Palsu Mengatasnamakan Plt
Budaya
Mengulik Sejarah Suku Tanjung dari Sumatera Barat
Mengulik Sejarah Suku Tanjung dari Sumatera Barat
Gunting Pita Menjadi Pertanda Kampar Expo 2023 Resmi Di
Festival Subayang 2023, Ini Jadwal dan Konsepnya
Olahraga
Calon Ketua KONI Riau Edi Basri Hadiri Laga Final Gala Desa Pasir Sialang Bangkinang
Calon Ketua KONI Riau Edi Basri Hadiri Laga Final Gala Desa Pasir Sialang Bangkinang
Kadispora Riau dan Ribuan Penonton Saksikan Laga Final
PWI Kampar Berhasil Mengalahkan KONI Kampar dan Kampar
Pendidikan
Komisi X DPR ke Unri, Karmila Sari: Jalur Penerimaan Mahasiswa harus Ditata Ulang
Komisi X DPR ke Unri, Karmila Sari: Jalur Penerimaan Mahasiswa harus Ditata Ulang
FORMA KIP-Kuliah UIN Suska Riau Audiensi dengan Sekda R
FORMA KIP-Kuliah UIN Suska Riau Audiensi dengan Kadispo
Hukum
“Semprot” Perusahaan di Pelalawan Usai Insiden Kerja, DPRD: K3 itu wajib, Bukan Pilihan!
“Semprot” Perusahaan di Pelalawan Usai Insiden Kerja, DPRD: K3 itu wajib, Bukan Pilihan!
Respon Laporan Masyarakat, Satpol PP Kampar Turun Ke lo
Bupati Kampar Fasilitasi Penyelesaian Konflik Desa Koto
Daerah
Insan Pers Antusias Mengikuti Pemaparan Industri Hulu Migas dari SKK Migas-KKKS APGWI
Insan Pers Antusias Mengikuti Pemaparan Industri Hulu Migas dari SKK Migas-KKKS APGWI
Bupati Zukri  dan Tim Patroli Tinjau Kebakaran Lahan T
Melihat Keindahan Lindok Alam Kampar, Cocok untuk Berba