Kurang Tidur Kronis Bisa Tingkatkan Risiko Kanker? Ini Penjelasan Dokter Onkologi

Kanama
Selasa, 15 September 2026 22:48:01

KANALSUMATERA.com - JAKARTA – Kebiasaan tidur larut malam atau begadang kerap dianggap sebagai hal biasa, terutama ketika seseorang harus menyelesaikan pekerjaan atau memiliki aktivitas hingga dini hari. Namun, jika berlangsung terus-menerus, pola tidur yang buruk dapat berdampak terhadap berbagai fungsi penting tubuh. Selasa (15/09/2026).

Dokter onkologi mengingatkan, kurang tidur tidak bisa secara langsung disebut sebagai penyebab kanker. Hingga saat ini, bukti ilmiah pada manusia belum cukup untuk memastikan hubungan sebab-akibat secara langsung antara kurang tidur dan munculnya kanker.

Kepala Onkologi Medis, Hematologi, dan BMT Sarvodaya, Sektor-8, Faridabad, Dr Ashish B. Agrawal menjelaskan, persoalan yang perlu diperhatikan adalah gangguan tidur dalam jangka panjang, terutama ketika disertai pola tidur yang tidak teratur dan aktivitas kerja pada malam hari.

Baca: Dinkes Kampar Perkuat Validasi Data Promkes dan UKS, Dorong Program Kesehatan Tepat Sasaran

"Bukti pada manusia saat ini belum cukup kuat untuk menetapkan hubungan sebab-akibat yang sederhana. Yang ditunjukkan oleh penelitian adalah bahwa gangguan tidur dan ritme sirkadian yang berkepanjangan dapat memengaruhi sistem biologis yang terlibat dalam perkembangan kanker," kata Dr Agrawal, dikutip dari Hindustan Times.

Menurutnya, kurang tidur kronis berpotensi memengaruhi sejumlah proses biologis yang berkaitan dengan kesehatan tubuh. Kondisi tersebut antara lain gangguan keseimbangan hormon, metabolisme, sistem kekebalan tubuh hingga kemampuan tubuh melakukan pemulihan.

Baca: Dinkes Kampar Tuntaskan Target 100 Persen BIK 2026, Imunisasi PCV2 Capai Target Nasional

Meski demikian, seseorang tidak perlu langsung khawatir apabila sesekali mengalami kurang tidur. Satu atau dua malam dengan kualitas tidur yang buruk tidak diperkirakan secara signifikan meningkatkan risiko seseorang terkena kanker.

Yang menjadi perhatian justru ketika kurang tidur berubah menjadi kebiasaan dalam jangka panjang.

Ritme Sirkadian Berperan Penting

Baca: Denpasar Gelar 3 Program Kesehatan Gratis Oktober 2026, Ini Cara Mengaksesnya

Dr Agrawal menjelaskan bahwa tubuh manusia memiliki ritme sirkadian atau jam biologis yang mengatur berbagai fungsi penting. Ritme tersebut tidak hanya berkaitan dengan waktu tidur dan bangun, tetapi juga pelepasan hormon, metabolisme, sistem pertahanan tubuh dan proses pemulihan.

"Masalah sebenarnya adalah kasus kurang tidur kronis disertai dengan pola tidur yang tidak konsisten dan pola kerja malam hari. Tubuh kita diprogram sesuai dengan ritme sirkadian, yang merupakan jam biologis yang mengatur berbagai fungsi penting, termasuk tidur, pelepasan hormon, proses metabolisme, mekanisme pertahanan tubuh, dan pemulihan," kata Dr Agrawal.

Baca: Ayat Cahyadi Tekankan Peran Ayah dalam Membangun Keluarga Berlandaskan Nilai-Nilai Islam

Gangguan tidur yang berlangsung lama dapat membuat sistem tubuh tidak bekerja secara optimal. Dalam kondisi tersebut, berbagai proses biologis yang saling berkaitan dapat mengalami perubahan.

Salah satu hal yang turut menjadi perhatian adalah melatonin, hormon yang berhubungan dengan siklus tidur dan bangun seseorang.

"Melatonin juga berinteraksi dengan jalur yang terlibat dalam stres oksidatif, kerusakan DNA, dan proliferasi sel. Paparan cahaya berulang di malam hari dapat menekan sinyal melatonin normal," katanya.

Baca: Kemendukbangga/BKKBN RI dan Komisi IX DPR RI Ajak Masyarakat Kampar Melek Isu Keluarga dan Stunting

Selain itu, kurang tidur kronis disebut dapat berkaitan dengan peradangan sistemik. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi fungsi sel imun serta pengaturan metabolisme tubuh.

Kerusakan DNA Tidak Otomatis Menjadi Kanker

Baca: Momentum Hari Asuransi ke-20, AAUI Cabang Pekanbaru Gelar Bakti Sosial Donor Darah

Dr Agrawal juga menjelaskan mengenai stres oksidatif dan kaitannya dengan kerusakan DNA. Menurutnya, kerusakan DNA tidak serta-merta berarti seseorang akan mengalami kanker karena tubuh memiliki mekanisme untuk memperbaiki kerusakan tersebut.

"Stres oksidatif yang berlebihan dapat merusak protein dan DNA, tetapi kerusakan DNA tidak secara otomatis menyebabkan kanker karena sel memiliki cara untuk memperbaikinya. Namun, kerusakan DNA yang berulang bersamaan dengan kegagalan untuk mengatur proses tersebut dapat menciptakan kondisi yang pada akhirnya akan mengakibatkan karsinogenesis, yaitu transformasi sel normal menjadi sel ganas," tambahnya.

Karena itu, kurang tidur sebaiknya tidak dipandang hanya sebagai persoalan rasa lelah pada keesokan harinya. Menjaga jadwal tidur yang teratur menjadi salah satu bagian penting dari upaya mempertahankan kesehatan secara menyeluruh.

Baca: Sering Diabaikan, Pola Makan Ini Bisa Tingkatkan Risiko Kerusakan Ginjal

Meski belum ada bukti yang cukup untuk menyatakan kurang tidur sebagai penyebab langsung kanker, kebiasaan tidur yang buruk dan berlangsung kronis tetap perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi sejumlah sistem biologis tubuh.

Dengan demikian, menjaga kualitas dan keteraturan tidur menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mendukung kesehatan tubuh dalam jangka panjang. (SM)



Terkait
Gejala Serangan Jantung Bisa Mirip Asam Lambung, Kenali Tanda Bahayanya
Gejala Serangan Jantung Bisa Mirip Asam Lambung, Kenali Tanda Bahayanya
Virus Baru ALTNV Ditemukan di China, Ditularkan Kutu da
Jambore BKPRMI Riau 2026 Resmi Dibuka, Mengusung Visi D
Sering Minum Air Putih Belum Tentu Baik, Dokter Ungkap
Lainnya
Forum Pekanbaru Kota Bertuah (FPKB) Serahkan Bantuan Ke Panti Asuhan Ar Rahman
Forum Pekanbaru Kota Bertuah (FPKB) Serahkan Bantuan Ke Panti Asuhan Ar Rahman
Dukung Ekonomi Kerakyatan, Viral Blast Global Sponsori
Kualitas Tidur Pengaruhi Kesehatan Jantung
Ibu Angkat Presiden Jokowi Meninggal Dunia di Bener Mer
Viral
PO MTrans Klarifikasi Viral Klakson Bus Suara Jokowi, Disebut Hasil Rekayasa
PO MTrans Klarifikasi Viral Klakson Bus Suara Jokowi, Disebut Hasil Rekayasa
Semarakkan Ramadhan, Masjid ini Rutin Berikan Hadiah Um
Polda Sumut Angkat Bicara soal Video Mahasiswa Berjaket
Fokus Redaksi
995 Airsoft Gun di Sekolah Jaksel Diklaim Berizin, Ini Penjelasan Perbakin
995 Airsoft Gun di Sekolah Jaksel Diklaim Berizin, Ini Penjelasan Perbakin
Pria Diduga Terjun dari Jembatan Rantau Berangin, Tim G
Kasus Tanah Warisan Kampar, Kuasa Hukum Minta Penyidik
Kriminal
Pembunuhan Ibu dan Anak di Madiun, Keluarga Korban Desak Pelaku Dihukum Mati
Pembunuhan Ibu dan Anak di Madiun, Keluarga Korban Desak Pelaku Dihukum Mati
Kapolri Bongkar Penyelundupan 1 Ton Ketamin di Belawan,
Bharada Andika Jadi Tersangka Kasus Polisi Tembak Polis
Pariwara
Ritual Bakar Tongkang Bagansiapiapi Mendunia, Tradisi Sejak 1820 Jadi Magnet Wisata Internasional
Ritual Bakar Tongkang Bagansiapiapi Mendunia, Tradisi Sejak 1820 Jadi Magnet Wisata Internasional
Hendry Munief Dorong UMKM Pariwisata Belajar dari Thail
Pj. Wali Kota Pekanbaru Luncurkan Program Penghapusan D
Hukum
Pesantren Kampar Desak Propam Periksa Dugaan Intimidasi Santriwati di Sukoharjo
Pesantren Kampar Desak Propam Periksa Dugaan Intimidasi Santriwati di Sukoharjo
Dedi Congor Jadi Tersangka KPK dan Polri, Ini Kasusnya
Empat Polisi di Batam Diamankan Terkait Etomidate, Kapo
Ekonomi
Harga Emas Anjlok 2,9%, Sinyal Kevin Warsh Picu Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga The Fed
Harga Emas Anjlok 2,9%, Sinyal Kevin Warsh Picu Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga The Fed
Indonesia Bidik Industri Chip Global, 15.000 Tenaga Ker
BGN Coret 80 Sekolah Swasta Elite dari Penerima MBG, Ad
Olahraga
Steven Gerrard Soroti Kesalahan Transfer Liverpool: Neco Williams Seharusnya Tak Dijual
Steven Gerrard Soroti Kesalahan Transfer Liverpool: Neco Williams Seharusnya Tak Dijual
Syahrul Aidi Dorong Gala Desa Kuok Jadi Ajang Lahirkan
Bupati Kampar Buka Gala Desa Riau, Dorong Generasi Muda