Kurang Tidur Kronis Bisa Tingkatkan Risiko Kanker? Ini Penjelasan Dokter Onkologi
KANALSUMATERA.com - JAKARTA – Kebiasaan tidur larut malam atau begadang kerap dianggap sebagai hal biasa, terutama ketika seseorang harus menyelesaikan pekerjaan atau memiliki aktivitas hingga dini hari. Namun, jika berlangsung terus-menerus, pola tidur yang buruk dapat berdampak terhadap berbagai fungsi penting tubuh. Selasa (15/09/2026).
Dokter onkologi mengingatkan, kurang tidur tidak bisa secara langsung disebut sebagai penyebab kanker. Hingga saat ini, bukti ilmiah pada manusia belum cukup untuk memastikan hubungan sebab-akibat secara langsung antara kurang tidur dan munculnya kanker.
Kepala Onkologi Medis, Hematologi, dan BMT Sarvodaya, Sektor-8, Faridabad, Dr Ashish B. Agrawal menjelaskan, persoalan yang perlu diperhatikan adalah gangguan tidur dalam jangka panjang, terutama ketika disertai pola tidur yang tidak teratur dan aktivitas kerja pada malam hari.
Baca: Kolesterol Tinggi? Ini 9 Buah yang Bisa Membantu Menurunkannya
"Bukti pada manusia saat ini belum cukup kuat untuk menetapkan hubungan sebab-akibat yang sederhana. Yang ditunjukkan oleh penelitian adalah bahwa gangguan tidur dan ritme sirkadian yang berkepanjangan dapat memengaruhi sistem biologis yang terlibat dalam perkembangan kanker," kata Dr Agrawal, dikutip dari Hindustan Times.
Menurutnya, kurang tidur kronis berpotensi memengaruhi sejumlah proses biologis yang berkaitan dengan kesehatan tubuh. Kondisi tersebut antara lain gangguan keseimbangan hormon, metabolisme, sistem kekebalan tubuh hingga kemampuan tubuh melakukan pemulihan.
Baca: Bukan Cuma Air, Buah dan Sayur Ini Ternyata Banyak Mengandung Mikroplastik
Meski demikian, seseorang tidak perlu langsung khawatir apabila sesekali mengalami kurang tidur. Satu atau dua malam dengan kualitas tidur yang buruk tidak diperkirakan secara signifikan meningkatkan risiko seseorang terkena kanker.
Yang menjadi perhatian justru ketika kurang tidur berubah menjadi kebiasaan dalam jangka panjang.
Ritme Sirkadian Berperan Penting
Baca: Virus Baru ALTNV Ditemukan di China, Ditularkan Kutu dan Picu Gejala Mirip Flu
Dr Agrawal menjelaskan bahwa tubuh manusia memiliki ritme sirkadian atau jam biologis yang mengatur berbagai fungsi penting. Ritme tersebut tidak hanya berkaitan dengan waktu tidur dan bangun, tetapi juga pelepasan hormon, metabolisme, sistem pertahanan tubuh dan proses pemulihan.
"Masalah sebenarnya adalah kasus kurang tidur kronis disertai dengan pola tidur yang tidak konsisten dan pola kerja malam hari. Tubuh kita diprogram sesuai dengan ritme sirkadian, yang merupakan jam biologis yang mengatur berbagai fungsi penting, termasuk tidur, pelepasan hormon, proses metabolisme, mekanisme pertahanan tubuh, dan pemulihan," kata Dr Agrawal.
Baca: Ralph Lauren Diserbu Seruan Boikot Usai Tampilkan Gal Gadot di Kampanye Terbaru
Gangguan tidur yang berlangsung lama dapat membuat sistem tubuh tidak bekerja secara optimal. Dalam kondisi tersebut, berbagai proses biologis yang saling berkaitan dapat mengalami perubahan.
Salah satu hal yang turut menjadi perhatian adalah melatonin, hormon yang berhubungan dengan siklus tidur dan bangun seseorang.
"Melatonin juga berinteraksi dengan jalur yang terlibat dalam stres oksidatif, kerusakan DNA, dan proliferasi sel. Paparan cahaya berulang di malam hari dapat menekan sinyal melatonin normal," katanya.
Baca: Jambore BKPRMI Riau 2026 Resmi Dibuka, Mengusung Visi Dari Masjid Menggerakkan Ekonomi Ummat
Selain itu, kurang tidur kronis disebut dapat berkaitan dengan peradangan sistemik. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi fungsi sel imun serta pengaturan metabolisme tubuh.
Kerusakan DNA Tidak Otomatis Menjadi Kanker
Baca: Sering Minum Air Putih Belum Tentu Baik, Dokter Ungkap Alasannya
Dr Agrawal juga menjelaskan mengenai stres oksidatif dan kaitannya dengan kerusakan DNA. Menurutnya, kerusakan DNA tidak serta-merta berarti seseorang akan mengalami kanker karena tubuh memiliki mekanisme untuk memperbaiki kerusakan tersebut.
"Stres oksidatif yang berlebihan dapat merusak protein dan DNA, tetapi kerusakan DNA tidak secara otomatis menyebabkan kanker karena sel memiliki cara untuk memperbaikinya. Namun, kerusakan DNA yang berulang bersamaan dengan kegagalan untuk mengatur proses tersebut dapat menciptakan kondisi yang pada akhirnya akan mengakibatkan karsinogenesis, yaitu transformasi sel normal menjadi sel ganas," tambahnya.
Karena itu, kurang tidur sebaiknya tidak dipandang hanya sebagai persoalan rasa lelah pada keesokan harinya. Menjaga jadwal tidur yang teratur menjadi salah satu bagian penting dari upaya mempertahankan kesehatan secara menyeluruh.
Meski belum ada bukti yang cukup untuk menyatakan kurang tidur sebagai penyebab langsung kanker, kebiasaan tidur yang buruk dan berlangsung kronis tetap perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi sejumlah sistem biologis tubuh.
Dengan demikian, menjaga kualitas dan keteraturan tidur menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mendukung kesehatan tubuh dalam jangka panjang. (SM)
