Virus Baru ALTNV Ditemukan di China, Ditularkan Kutu dan Picu Gejala Mirip Flu
KANALSUMATERA.com - JAKARTA – Para ilmuwan di China menemukan virus baru yang dapat ditularkan melalui gigitan kutu. Virus yang diberi nama Asian longhorned tick nairovirus (ALTNV) tersebut diketahui dapat menyebabkan penyakit dengan gejala menyerupai infeksi influenza. Jumat (11/09/2026).
Temuan ini menjadi perhatian karena infeksi ALTNV dapat memunculkan sejumlah gejala, mulai dari demam, kelelahan, gangguan saluran pencernaan hingga perubahan hasil pemeriksaan darah dan fungsi organ tertentu.
Penelitian mengenai virus tersebut dipimpin ilmuwan dari State Key Laboratory of Pathogen and Biosecurity, Beijing. Hasil penelitian kemudian dipublikasikan dalam New England Journal of Medicine.
Baca: Ralph Lauren Diserbu Seruan Boikot Usai Tampilkan Gal Gadot di Kampanye Terbaru
Penemuan ALTNV bermula ketika peneliti menyelidiki kasus pasien yang mengalami gejala infeksi Dabie bandavirus (DBV), tetapi hasil pemeriksaan terhadap penyakit yang ditularkan kutu tersebut justru negatif.
DBV sendiri merupakan virus penyebab severe fever with thrombocytopenia syndrome (SFTS) atau sindrom demam berat dengan trombositopenia. Penyakit ini telah ditemukan di sejumlah wilayah Asia dan memiliki tingkat kematian kasus sekitar 10 hingga 30 persen.
Baca: Jambore BKPRMI Riau 2026 Resmi Dibuka, Mengusung Visi Dari Masjid Menggerakkan Ekonomi Ummat
WHO memasukkan DBV sebagai salah satu patogen yang menjadi prioritas penelitian.
Ditemukan pada Ribuan Pasien
Dalam penelitian tersebut, ilmuwan menganalisis sampel dari pasien yang memiliki riwayat gigitan kutu di sejumlah rumah sakit di wilayah China yang diketahui menjadi lokasi peredaran virus yang ditularkan kutu.
Baca: Sering Minum Air Putih Belum Tentu Baik, Dokter Ungkap Alasannya
Virus ALTNV berhasil diidentifikasi melalui proses sekuensing RNA dan isolasi virus. Analisis filogenomik menunjukkan ALTNV termasuk kelompok orthonairovirus dari famili Nairoviridae.
Dari 3.163 pasien yang diperiksa, sebanyak 10,4 persen dinyatakan positif ALTNV berdasarkan deteksi RNA atau antibodi imunoglobulin M (IgM).
Yang menarik, dari pasien yang hasil pemeriksaannya negatif terhadap DBV, sekitar 15,1 persen ternyata positif ALTNV. Temuan ini menunjukkan adanya kemungkinan infeksi ALTNV selama ini terlewat ketika pasien diperiksa menggunakan metode diagnosis untuk penyakit lain.
Kelelahan dan Gangguan Pencernaan Jadi Gejala Dominan
Peneliti menemukan sejumlah gejala yang paling sering dialami pasien yang hanya terinfeksi ALTNV.
Kelelahan menjadi gejala paling dominan dengan persentase 84 persen, disusul gangguan saluran pencernaan sebesar 80 persen.
Selain itu, sekitar 38 persen pasien mengalami trombositopenia, sedangkan 36 persen menunjukkan peningkatan kadar aminotransferase. Kondisi tersebut dapat menjadi indikator adanya peradangan atau kerusakan pada hati maupun jaringan tubuh lainnya.
Meski demikian, pasien yang dalam penelitian hanya mengalami infeksi ALTNV dilaporkan dapat sembuh sepenuhnya.
Koinfeksi ALTNV dan DBV Lebih Berisiko
Risiko kesehatan berbeda ditemukan pada pasien yang mengalami infeksi bersamaan antara ALTNV dan DBV.
Kelompok pasien dengan koinfeksi tersebut memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan pernapasan dan gangguan fungsi ginjal dibandingkan pasien yang hanya terinfeksi DBV.
Gangguan pernapasan tercatat pada 61 persen pasien koinfeksi, dibandingkan 38 persen pada pasien yang hanya terinfeksi DBV. Sementara gangguan fungsi ginjal mencapai 84 persen, berbanding 66 persen pada kelompok DBV saja.
Dari 38 pasien yang mengalami koinfeksi, 7 orang atau sekitar 18,4 persen meninggal dunia.
Kutu Haemaphysalis Longicornis Diduga Menjadi Pembawa
Penelitian juga dilakukan terhadap puluhan ribu kutu yang dikumpulkan dari berbagai wilayah China.
RNA ALTNV terdeteksi pada 1,3 persen dari 47.428 kutu yang dikumpulkan dari 15 provinsi. Tingkat deteksi tertinggi ditemukan pada Haemaphysalis longicornis, yakni sekitar 1,8 persen.
Dalam eksperimen, kutu jenis tersebut juga terbukti mampu menularkan virus kepada tikus.
Peneliti menyebut ALTNV dan DBV ditemukan beredar di wilayah yang sama serta menggunakan vektor kutu yang sama. Karena itu, kemampuan diagnosis yang dapat membedakan kedua infeksi tersebut dinilai penting, terutama di wilayah yang menjadi endemis SFTS.
Penemuan ALTNV menambah daftar virus yang perlu mendapat perhatian dalam penelitian penyakit yang ditularkan melalui kutu. Meski temuan ini berasal dari penelitian di China, hasil tersebut menunjukkan pentingnya pemantauan terhadap virus baru dan peningkatan akurasi diagnosis pada pasien dengan riwayat gigitan kutu. (SM)
