Obat Diabetes SGLT2 Inhibitor Bisa Turunkan Berat Badan, Begini Penjelasan Dokter
KANALSUMATERA.com - JAKARTA – Obat diabetes golongan Sodium-Glucose Cotransporter-2 (SGLT2) inhibitor ternyata memiliki manfaat tambahan selain membantu mengendalikan kadar gula darah. Obat ini diketahui dapat membantu menurunkan berat badan, terutama pada pasien diabetes tipe 2 yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Rabu (04/11/2026).
Efek tersebut terjadi melalui mekanisme kerja obat yang memengaruhi proses penyerapan kembali glukosa di ginjal. Sebagian gula yang seharusnya kembali masuk ke aliran darah justru dikeluarkan melalui urine.
Subspesialis Endokrin, Metabolik, dan Diabetes, Dr. dr. Indra Wijaya, M.Kes., Sp.PD, Subsp. EMD (K), FINASIM, FACP, AIFO-K, menjelaskan bahwa SGLT2 inhibitor bekerja pada bagian ginjal yang dikenal sebagai tubulus proksimal.
Baca: T. Nurheryani Ahmad Yuzar Resmi Pimpin YJI Kampar 2026–2031, Perkuat Edukasi Kesehatan Jantung
"Golongan tablet ini, SGLT2 inhibitor-nya, ada di dua tempat ini. Kenapa dia masuk ke populasi yang untuk kontrol ginjal dan jantung, tapi juga masuk ke pasien yang kelebihan berat badan atau obesitas, karena dia bisa menurunkan juga berat badan. Nah, mekanismenya dia satu golongan yang bekerja di tubulus proksimal ginjal," ujar dr. Indra dalam sesi wawancara bersama Daewoong di Jakarta Utara, Senin (2/11/2026).
Cara Kerja SGLT2 Inhibitor Menurunkan Berat Badan
Baca: RSUD Arifin Achmad Riau Akui Ruang Rawat Inap Terbatas, Puluhan Pasien IGD Masih Menunggu Kamar
Pada kondisi normal, ginjal memiliki fungsi menyaring darah sekaligus mempertahankan berbagai zat yang masih dibutuhkan tubuh, termasuk glukosa.
Glukosa yang telah disaring akan diserap kembali melalui bantuan protein pengangkut bernama SGLT2. Namun, pada pasien yang menggunakan obat golongan SGLT2 inhibitor, proses penyerapan kembali tersebut dihambat.
Akibatnya, sebagian glukosa tidak kembali ke aliran darah dan dikeluarkan bersama urine.
Baca: Wajah Membengkak Bukan Hanya karena Alergi, Ini Beragam Penyebab yang Perlu Diwaspadai
Dr. Indra menjelaskan bahwa mekanisme tersebut membantu mengurangi kadar gula dalam darah pada pasien diabetes.
"Jadi ginjal itu nyaring, tapi gulanya akan dimasukin lagi ke dalam tubuh kita. Nah, untuk pasien diabetes kan ketinggian gulanya, ya kita buang saja," jelasnya.
Baca: Kapolda Metro Jaya Gelar Cek Kesehatan Gratis untuk Driver Ojol, Ini Layanan yang Disediakan
"Caranya, kita blok reseptor dia untuk masukin lagi ke darah, ya dibuang lewat urin. Nah, maka itu pasien-pasien diabetes yang meminum obat ini, SGLT2 inhibitor, pasti di urinnya ada gula," lanjut dr. Indra.
Tubuh Bisa Kehilangan 100-300 Kalori Setiap Hari
Pengeluaran glukosa melalui urine ternyata turut menyebabkan tubuh kehilangan sebagian energi yang terkandung di dalam gula tersebut.
Baca: Ayat Cahyadi Tekankan Peran Ayah dalam Membangun Keluarga Berlandaskan Nilai-Nilai Islam
Menurut penjelasan dr. Indra, penggunaan obat SGLT2 inhibitor dapat membuat tubuh kehilangan sekitar 100 hingga 300 kalori setiap hari melalui proses pembuangan glukosa.
"Obat tersebut, ya gulanya bagus, tapi gulanya kebuang tuh kalorinya, bisa kebuang tuh cukup besar ya. Bisa sampai rata-rata 100 sampai 300 kalori per hari," kata dr. Indra.
Baca: Dinkes Kampar Perkuat Desa Siaga TB, Temukan 959 Kasus hingga September 2026
Berkurangnya energi yang diserap tubuh dapat menciptakan defisit kalori. Kondisi inilah yang berkontribusi terhadap penurunan berat badan pada sebagian pasien yang menggunakan obat tersebut.
Manfaat tambahan ini menjadi perhatian dalam penanganan pasien diabetes tipe 2, khususnya mereka yang juga memiliki masalah berat badan berlebih.
Asupan Nutrisi Tetap Harus Diperhatikan
Baca: Kasus Influenza A Naik di Indonesia, Pakar UGM Ungkap 6 Cara Cegah Penularan
Meski dapat membantu menurunkan berat badan, penggunaan SGLT2 inhibitor tetap membutuhkan pengawasan tenaga medis.
Dr. Indra mengingatkan bahwa pasien yang mengalami penurunan berat badan selama menjalani pengobatan perlu memperhatikan kecukupan nutrisi. Tujuannya agar berat badan tidak turun secara berlebihan dan kebutuhan energi serta protein tubuh tetap terpenuhi.
Baca: Pasien DBD Tetap Keluar Biaya Meski Ditanggung BPJS, Ini Rinciannya
Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah menyesuaikan pola makan dengan memilih sumber protein dan asupan rendah gula.
"Nah, cara menyikapinya adalah meng-replace kalau yang disebut kebuang, dengan asupan, tapi dengan asupan yang rendah gula. Contohnya, naikkan proteinnya, tambah susu yang rendah gula," pungkas dr. Indra.
Bukan Obat Pelangsing, Penggunaan Harus Sesuai Resep Dokter
Baca: Gejala Serangan Jantung Bisa Mirip Asam Lambung, Kenali Tanda Bahayanya
Perlu dipahami bahwa SGLT2 inhibitor merupakan obat untuk penanganan kondisi medis tertentu, terutama diabetes tipe 2. Penurunan berat badan merupakan salah satu efek tambahan dari mekanisme kerjanya, bukan alasan untuk mengonsumsi obat ini secara sembarangan.
Penggunaan obat harus mempertimbangkan kondisi kesehatan pasien, fungsi ginjal, serta kemungkinan efek samping. Pasien juga perlu mendapatkan pemantauan dan arahan dokter selama menjalani pengobatan.
Baca: Kurang Tidur Kronis Bisa Tingkatkan Risiko Kanker? Ini Penjelasan Dokter Onkologi
Karena itu, masyarakat tidak dianjurkan menggunakan obat diabetes golongan SGLT2 inhibitor hanya untuk menurunkan berat badan tanpa indikasi medis dan pemeriksaan dokter.
Pengendalian diabetes tetap perlu dilakukan secara menyeluruh melalui pengobatan yang tepat, pengaturan pola makan, aktivitas fisik, serta pemantauan kesehatan secara berkala. (SM)
